Hal tersebut dipaparkan Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc, MA dalam pengajian ramadhan bagi pejabat struktural Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang berlangsung Jumat, (19/09) di kampus terpadu UMY. Badan Pelaksana Harian UMY merasa perlu mengadakan pengajian ramadhan kali ini karena sebagai amal usaha muhammadiyah, UMY memiliki peran strategis dalam menyiapkan sumber daya insa yang berkualitas di masa mendatang. Peran strategis ini tertuang dalam rumusan tujuan pendidikan tinggi muhammadiyh yauitu membentuk sarjana muslim yang berakhlaq mulia, cakap, percaya pada diri sendiri, dan berguna bagi masyarakat.
Untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan kerja keras, kerja cerdas dan kerjasama yang dijiwai semangat keikhlasan dan kebersamaan dari semua elemen yang ada di UMY dalam mewujudkan universitas yang unggul dan islami. Sebagi pengambil kebijakan Tridarma Perguruan Tinggi, peran pejabat structural UMY menjadi sangat vital karena harus berperan aktif bagi pencapaian tujuan tersebut, untuk dapat melaksanakan tugas sebagai pejabat structural diperlukan kemampuan manajerial dan kekuatan moral yang memadai. Upaya pengembangan diri bagi penguatan disiplin keilmuan yang ditekuni menjadi sesuatu yang tak terelakkan dan harus dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan.
Kerja dalam kategori ibadah menurut Yunahar dapat dipahami dengan mengerti apa itu ibadah. Ibadah dalam pengertian himpunan putusan tarjih muhammadiyah adalah taqorrub ilaalloh, atau mendekatkan diri kepada Allah. Ibadah terbagi dalam dua; ibadah ‘amah (umum) dan ibadah khos (khusus). Ibadah umum meliputi kehidupan sosial, ekonomi, politik, seni, budaya dll. Sedangkan ibadah khusus yang tata caranya diatur dalam syariat, diantaranya; puasa zakat sholat, thaharah, haji dsb.
Ibadah umum mempunyai kaidah dasar yakni semuanya atau apa saja boleh kecuali yang dilarang.. Artinya semua aktifitas yang berkaitan dengan ibadah umum apapun bentuknya itu hukumnya adalah boleh selama tidak ada nash yang melarangnya. “Jadi semua pekerjaan itu boleh, selama tidak ada ketentuan alquran dan hadist yang melarangnya.” imbuhnya.
Kebalikannya dengan ibadah khusus, kaidah yang berlaku adalah semuanya dilarang kecuali yang sudah ada perintahnya dalam alquran dan sunnah atau hadist. “Banyak terjadi kesalahan bentuk pertanyaan orang tentang hal ini. Misalkan seseorang bertanya ‘mana hadist atau ayat alquran yang melarang tentang itu?’. Pertanyaannya salah karena dengan tidak adanya hadist atau ayat tentangnya, itulah yang membuat dia menjadi haram untuk dilakukan. Karena tidak ada perintahnya. Jangan mengada-ada dalam hukum ibadah mahdhoh ini kerena jatuhnya adalah bidah dan bidah itu adalah haram.” tegas Yunahar
Bekerja haruslah disertai dengan rasa ikhlas. Ikhlas tidak hanya didasarkan pada niat semata. Namun ada hal lain yang harus melengkapi sebuah niat agar ia bisa dikatakan ikhlas. Itqon (tekun) dalam amal dan sikap terhadap hasil. Tidak cukup dikatakan iklhas dengan hanya mendasarkan pada niat yang lurus semata. Niat yang lillahitaala, hanya karena Allah. Niat juga bisa dilihat dari motivasi melakukan. Ada yang melakukan ibadah atau pekerjaan karena menganggap itu sebagai beban, ada yang menganggap wajib, butuh, syukur dan terakhir ada juga karena cinta. Tingkatan cinta inilah yang terbaik yang melandasi sebuah niat sehingga ketulusannya benar-benar teruji.
Sebuah niat akan diuji dengan ketekunan. Niat yang lurus akan gagal dikatakan ikhlas jika pekerjaan yang dilakukan adalah setengah-setengah. Tidak dengan sepenuh hati. Maka keiklhasan membutuhkan itqon sehingga akan melahirkan sebuah profesionalisme. Profesionalisme yang diwarnai dengan kerja keras, jujur, terampil, disiplin, kerjasama, dan penuh rasa tanggung jawab.
Ternyata, keikhlasan belum sampai pada profesionalisme kerja saja, namun ia masih harus ditentukan dengan sikap pelaku terhadap hasil yang diperoleh. Dikatakan ikhlas yang sempurna ketika niat sudah lurus dan bekerja sepenuh hati serta menyikapi hasil yang diperoleh dengan syukur dan sabar. Ketika ada rasa kagum terhadap pekerjaan yang telah dilakukan, maka sudah timbul kesombongan dalam diri, dan itu telah merusak keikhlasan. Syukur nikmat, lapang dada, rendah hati, berbagi kegembiraan, dan juga introspeksi menjadi hal yang diperlukan untuk menyempurnakan keikhlasan ketika sebuah pekerjaan telah berhasil diselesaikan, tak peduli pekerjaan itu berhasil atau gagal. “Kalau bersyukur itu tidak ada kata cumanya. Alhamdulillah naik pangkat, tapi cuma sebagai kaprodi (kepala program studi). Kalau benar-benar bersyukur dia akan mantap mengatakan Alhamdulillah, titik.” Canda Yunahar.
Sumber: Universitas Muhammadiyyah Yogyakarta
0 comments:
Post a Comment